PENGEMBANGAN MODUL PEMBUKTIAN KEKONGRUENAN SEGITIGA UNTUK MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA STKIP MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA
Keywords:
Modul, Pembuktian Geometri, Kekongruenan SegitigaAbstract
Pembuktian matematika merupakan salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam pembelajaran matematika di perguruan tinggi. Salah satu kendala yang di alami mahasiswa dalam mempelajari geometri yaitu mahasiswa sulit dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan pembuktian. Peneliti bertujuan untuk mengembangkan modul pembuktian geometri untuk mahasiswa pendidikan matematika STKIP Muhammadiyah Aceh Barat Daya. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model four-D yang terdiri atas empat tahapan. Pertama tahap define (pendefinisian) kegiatan yang dilakukan adalah analisis kebutuhan, analisis konsep dan analisis karakteristik mahasiswa. Kedua tahap design (perancangan) kegiatan yang dilakukan adalah pemilihan modul pembelajaran pemilihan format, rancangan awal berupa isi komponen,materi dan instrumen. Ketiga tahap develop (pengembangan) kegiatan yang dilakukan adalah proses validasi dari validator yang bertujuan untuk mendapatkan modul pembelajaran yang valid. Keempat tahap Diseminasi (penyebaran) kegiatan yang dilakukan adalah mencetak dan mempromosikan produk pengembangan. Akan tetapi, peneliti hanya melakukan sampai tahap ketiga saja yaitu tahap develop (pengembangan). Berdasarkan penelitian di peroleh rata-rata hasil validasi 3.44 dan modul pembelajaran pembuktian geometri kekongruenan segitiga dikategorikan valid.
Downloads
References
Anwar, I. (2010). Pengembangan bahan ajar. Direktorat Universitas Pendidikan Indonesia.
Argaswari, D. P. A. D. (2018). Penelitian dan pengembangan modul pembelajaran geometri berbasis teori Van Hiele. Jurnal Pendidikan Matematika, 2(2).
Blanton, M., Stylianou, D., & David, M. (2010). The nature of scaffolding in undergraduate transition to formal proof. In N. Pateman (Ed.), Proceedings of the 27th Conference of the International Group for the Psychology of Mathematics Education (Vol. 2, pp. 113–120). International Group for the Psychology of Mathematics Education.
Darmiyatun. (2013). Menyusun modul bahan ajar untuk persiapan guru dalam mengajar. Gava Media.
Djumaliningsih, Putri, N., et al. (2012). Eksperimentasi model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berorientasi penemuan terbimbing dengan penggunaan alat peraga pada materi bangun datar segi empat ditinjau dari kemampuan penalaran matematika. JMEE, 2(2), 132–133.
Hamimi, L., Ikhsan, M., & Abidin, Z. (2018). Pengembangan perangkat pembelajaran pembuktian menggunakan model guided inquiry untuk meningkatkan kemampuan geometri siswa sekolah menengah atas. Jurnal Didaktik Matematika, 5(1).
Hardjana, A. M. (2001). Training SDM yang efektif. Kanisius.
Herry, A. S. (2011). Pemahaman pemecahan masalah pembuktian sebagai sarana berpikir kreatif. Jurnal Pendidikan dan Penerapan, 189.
Izzati, et al. (2013). Pengembangan modul tematik dan inovasi berkarakter pada tema pencemaran lingkungan untuk siswa kelas VII SMP. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 2(2).
Jaya, I. K., et al. (2015). Analisis pengembangan karyawan dalam meningkatkan kualitas kerja karyawan pada PT Sultra Prima Lestari Kantor Utama Kabupaten Konawe Utara. Jurnal Administrasi Bisnis, 5(1).
Julan, H. (2008). Metoda pembuktian dalam matematika. Jurnal Pendidikan Matematika, 1(2), 4–12.
Kogce, D., Aydin, M., & Yildiz, C. (2010). The views of high school students about proof and their levels of proof. Procedia Social and Behavioral Sciences, 2, 2544–2549.
Lina, A. S., Suharsono, & Muslim, A. (2013). Hubungan kongruen dalam geometri terhingga. Lampung.
Maarif, S. (2018). Kemampuan pemahaman konsep, penalaran, dan pembuktian matematis mahasiswa pada perkuliahan geometri dasar menggunakan model guided discovery learning dengan strategi self explanation. Universitas Pendidikan Indonesia.
Mahfudy, S. (2017). Strategi pembuktian matematis mahasiswa pada soal geometri. Jurnal Teori dan Aplikasi Matematika, 1(2), 31–32.
Martini. (2020). Peningkatan hasil belajar matematika melalui model pembelajaran inquiry. Jurnal Al-Azkiya, 5(1), 36.
Mulyasa, E. (2003). Kurikulum berbasis kompetensi. PT Remaja Rosdakarya.
Nasution, S. (2008). Berbagai pendekatan dalam proses belajar dan mengajar. Bumi Aksara.
Prastowo, A. (2013). Panduan kreatif membuat bahan ajar inovatif. Diva Press.
Puguh, D. (2016). Berpikir analitik mahasiswa dalam mengonstruksi bukti secara sintaksis. Jurnal Pendidikan Matematika, 2(2), 155.
Rasyid, M. (2010). Pengertian, fungsi, dan tujuan penulisan modul. http://www.rosyid.info/2010/06
Rinaldi, T. (2014). Pengembangan perangkat pembelajaran matematika materi bangun ruang sisi lengkung dengan model pembelajaran berbasis masalah. Universitas Negeri Yogyakarta.
Risky, N., Halim, A., & Syamsul, R. (2015). Pengembangan modul berbasis PhET untuk meningkatkan pemahaman konsep dan motivasi belajar siswa pada materi pembiasan cahaya. Jurnal Pendidikan Sains Indonesia, 3(1), 182.
Stylianides, A. J. (2007). The notion of proof in the context of elementary school mathematics. Educational Studies in Mathematics, 65(1), 1–20.
Suryaningtyas, W., & Kristanti, F. (2013). Pengembangan perangkat pembelajaran dengan media Gabuz pada mata kuliah statistika dasar menggunakan model 4-D Thiagarajan. Tidak diterbitkan.
Winkel, W. S. (2009). Psikologi pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Lia Hamimi, Orin Asdarina, Fatma Henny (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.










